1. Lingkungan dan masanya
Di akhir-akhir abad ke-tujuh hijriyah terbit sebuah bintang (Ibnu Taymiyyah) yang mudah-mudahan Allah SWT memberkahinya, pada waktu keistimewaanya banyak terdapat hadis, jumlahnya tak ada hentinya. Di sisi lain kerajaan islam terpecah menjadi beberapa kerajaan-kerajaan kecil dan setiap kerajaan menjauh dari kerajaan yang lain agar bisa merobohkannya, kemudian menjadi raja seperti yang diberitahu oleh Nabi SAW yaitu raja yang perkasa dan kemudian menjadi kacau balau….
Dan para prajurit tentara salib menyerang tempat tinggal islam akan tetapi Allah SWT memberi pertolongan kepada umat Muhammad dan saat datang bangsa tartar semua menjadi kacau dan segolongan orang bergerak secara sembunyi, di Andalusia juga kerajaan terpecah menjadi kerajaan kecil, sampai setiap kota mempunyai pemimpin, tentara dan pasukan, musuhpun merobohkan satu persatu sampai ditelan kerajaan yang terakhir, terjadilah yang tidak diharapkan…
Dalam keadaan yang berantakan ini terlahirlah Al-imam Ibnu Taymiyyah semoga dirahmati oleh Allah SWt hidup dengan hati seorang mu’min yang terampas, apakah berpengaruh atau terpengaruh hal yang terjadi disekitarnya? Apakah selamat dari setiap cobaan, pemikiran dan musuh-musuh??
2. Namanya, nasabnya dan perkembanganya
Namanya Ahmad Taqiyuddin Abu Al-abbas bin Syihaabuddin Abdul Halim bin Abu Al-barakat…, dilahirkan pada tanggal sepuluh rabi’ul awal tahun enam ratus enam puluh satu hijriyah, tempat lahirnya di kota (haraan) dia tinggal di sana sampai berumur tujuh tahun, ketika bangsa tartar menyerang kota (haraan) keluarganya berevakuasi ke kota damaskus. Di dalam perjalanan menemui beberapa rintangan dan bahaya, itu menjadikan dia amat membenci pada bangsa tartar, merekapun bertempat tinggal di damaskus dan orang tuanya terkenal dengan dengan keilmuan dan ketaqwaannya, menjadi ketua di perpustakaan hadis As-sakariyah, menjadi guru di perguruan umayyah dan Al-imam(Ibnu Taymiyyah) waktunya terdidik oleh teman-teman ayahnya apalagi dia lebih diperhatikan karena kepintaran yang bersinar, cepat dalam menghafal, dapat menjawab dengan seketika (tanpa berfikir panjang) dan pemberani.
Di dalam lingkungan yang seperti ini(kacau balau dengan serangan bangsa tartar), Ibnu Taymiyyah menghafal Al-qur’an kemudian beralih menghafal hadis dan ilmu bahasa, mengetahui hukum-hukum fiqih, menghafal apa yang bisa dia hafal dengan kehendak Allah dan sejak kecil mempunyai tiga kelebihan :
1. Ingatan yang kuat, akal yang terjaga, pemekiran yang jernih dan keunggulan yang lebih
2. Berusaha dengan sungguh-sungguh sampai pergi ke (majdi) untuk menuntut ilmu dan pelajaran.
3. Hati dan jiwanya terbuka untuk memaksa berusaha tekun di dalam keilmuan, hafalan dan ingatan di setiap daerah yang dikunjunginya
Ibnu Taymiyyah mendengar hadis yang disandarkan dari Ahmad, shahih Bukhari, Muslim dan timdzi. Dan sunah–sunah dari Ibnu daud, Nasa’i, Ibnu majah dan Addar Quthni itu semua dia mendengarnya berkali-kali dan permulaan dalam menghafal hadis adalah :
Kumpulan hadis shahihain karya Imam Hamidi begitu pula pelajaran matematika, ilmu-ilmu bangsa arab dan sejarah orang-orang terdahulu, pandai dalam ilmu nahwu, sampai menetang beberapa pendapat Imam Sibaweh (seorang ulama yang ahli dalam ilmu nahwu)di beberapa masalah ilmu nahwu!!
Ibnu Taymiyyah juga memperluas ilmu-ilmu tafsir Al-qur’an dan meneliti ensiklopedi yang tertulis di dalamnya dan bertambahlah kebudayaannya dan dia juga mengambil kesimpulan untuk keilmuan.
Suatu hari di kota damaskus kehilangan para ulama’, apalagi ketika para ulama’ pergi dari andalus ke arab bagian timur dan juga setelah pengaruh jatuhnya kepemimpinan islam.
Dan muncullah sekolah-sekolah yang khusus untuk ilmu-ilmu hadis contohnya hadis yang dikeluarkan oleh imam nawawi, Ibnu Daqiq Al-‘ied zamlakani dan yang lain. Sama juga seperti munculnya sekolah-sekolah untuk keilmuan fiqih seperti sekolah Al-hanabilah dan Asy-syfi’iyyah dan lain.
Suatu saat muncul dan tersebar madzhab Abu Al-hasan Al-Asy’aari di dalam ilmu tauhid, tidak ada yang menentang mereka kecuali madzhab Al-hanabilah. Dan imam (Ibnu Taymiyyah) adalah salah satu lulusan sekolah Al-hanabilah tersebut, setelah itu dia lebih condong memperhatikan keilmuan pandapat para sahabat khusunya ilmu fiqih para sahabat yang istimewa dalam hal keilmuan, pengalaman dan ekspedisi seperti fiqih Umar bin Khattab, Ali bin Abi thalib dan Ibnu Abbas. Dia juga sangat lapar fatwa-fatwa At-tabi’in yang istimewa seperti sa’iid bin Al-musiib, An-nakh’ii dan Al-qaasim bin Muhammad, inilah yang perkataan salah seorang yang sebaya dengannya “Allah SWT telah melunakkan pengetahuan-pengetahuan padanya sebagaimana Allah SWT melunakkan besi pad Daud AS dan apabila dia ditanya tentang seni keilmuan orang yang melihat dan mendengar berprasangka dia tidak mengetahui seni tersebut, dan sesungguhnya tidak ada orang yang berpengetahuan sepertinya (pada masanya.)
3. Kepada siapa saja dia menuntut ilmu ?
Orang tuanya mempunyai tangan yang putih ditemukan pada dirinya pengetahuan-pengetahuannya, seorang ‘alim yang luhur dikenal dengan depanya yang panjang dalam ilmu-ilmu hadis dan ketika ayahnya wafat dia baru berusia sebelas tahun, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan akal yang bersih dan hati yang jernih, mendengar dari sumber ini dia langsung faham, mendengar dari yang lain diapun langsung faham sampai berkata pencipta buku Al-‘uquud Ad-dariyah yang memperlihatkan kelebihannya “Lebih dari dua ratus guru-gurunya yang dia dengar dan mendengar dari buku-buku hadis yang dipercaya berkali-kali, berkali-kali.”
Di harinya dia tidak meninggalkan perdebatan, perkumpulan-perkumpulan atau majelis-majelis para yang terkenal kecuali dia bersegera untuk hadir dan mengungkapkan pendapatnya, sampai apabila bertambah yang berpihak kepadanya dan percaya dengan pengetahuannya dan apabila pendapatnya kalah kuat, dia belajar kepada orang-orang yang kuat pendiriannya, lama masanya dan yang menetang pemikiran dan pendapat-pendapat, tetapi bagaimana dia belajar pada mereka?
Dia menekuni membaca buku-buku mereka, dimulai dari mengumpulkan berbagai penafsiran-penafsiran mereka tentang Al-qur’an yang mulia, disini dia lebih banyak memelihara apa-apa yang ditafsirkan oleh ulama’-ulama’ terdahulu, Ibnu Taymiyyah berkata (semoga Allah memberkahinya) apabila saya membaca satu ayat itu mempunyai seratus penafsiran kemudian aku meminta pemahaman pada Allah, dan saya berkata ”Wahai guru Ibrahim ajarilah aku, wahai guru Ibrahim fahamkanlah aku dan aku pergi ke masjid-masjid yang sudah tidak terpakai lalu kutempelkan wajahku ke tanah kemudian aku berdo’a agar aku diilhami yang benar.”
Terdapat di dalam(buku) kumpulan fatwa-fatwa : “Bahwasanya ilmu tafsir yang menjadi karya ulama’ terdahulu dikumpulkan oleh Ibnu Taymiyyah lebih dari tiga puluh jilid, sebagian ditulis dan sebagiannya lagi tidak begitu juga dia buku fiqih hambali buku Al-mughni (karya Ibnu Qadamah wafat 630 H), buku inilah yang banyak terdapat pendapat para sahabat dan tabiin ahli fiqih, mempengaruhi pengaruh yang besar, kemudian ditulis dengan tulisan lama.
Tetapi berserta dengan itu dia juga membaca buku mdzhab Al-hanafi sepeti Ath-thahawi, Al-khasaf, Al-hashiri dan As-sarakhsi, dia juga membaca buku madzhab Asy-syfi’i seperti : Al’umm, Al-madzhab, Almajmuu’, mukhtasharul mizani dan Alwajiiz karya imam Al-ghazali.
Dia juga membaca buku Ibnu Rasyid Al-kabir, Ibnu Rasyid Al-hafiid dan yang lain pada madzhab maliki.
Dan dia terpangaruh banyak dari buku karya Ibnu Hazm, khususnya dia membaca Al-mahali dan Al-ihkam fii ushuulil Ahkam.
Pencipta buku Al-kawakib Ad-durriyah berkata tentangnya “Sesungguhnya dia mempunyai pemikiran yang bagus dalam pengetahuan madzhab para sahabat dan tabiin, dia sedikit berbicara dalam suatu masalah kecuali menyebutkan pendapat-pendapat madzhab yang empat, kadang-kadang menentang madzhab yang empat di beberapa masalah, menjadikannya beberapa golongan beralasan dengan Al-qur’an dan sunah Nabi SAW.
Begitu juga dia tidak sombong dengan pengetahuan-pengetahuan bangsa arab tetapi dia lebih memperluas pengetahuan tersebut, sampai dia pernah menyangkal guru para ahli nahwu yaitu Abu Hayaan An-nahwi dan suatu hari dia berkata “mataku tidak pernah melihat orang seperti Ibnu Taymiyyah.”
Melihat untuk kepentingan-kepentingan zaman, dia mempelajari buku-buku Imam AL-ghazali seperti buku-buku bahasa dan filsafat dan belajar pendapat-pendapat beberapa golongan yang bertentangan seperti buku Aljahmiyyah fii iraadati ‘abdi wa masyi’atur rabbi dan membedakan antara pendapat-pendapat pengikut Al-asy’aari dengan pendapat para pengikut golongan mu’tazilah. Dari sini mengetahui suatu rahasia apabila kita membaca buku ‘Arsyurrahmaan, suatu perkataan yang menakjubkan seperti dia berbicara tentang ilmu falak.
Dia juga membaca surat-surat dari teman-teman terdekat dan tidak heran apabila dia membaca buku-buku orang nasrani, kalau dia tidak membacanya dari mana dia bisa menciptakan sebuah buku berjudul {Jawaban yang benar bagi orang yang merubah agama nasrani}
Ini sampai membuat Muhammad Abu Zahrah yaitu seorang ‘alim yang luhur berkata “Kita bisa mengatakan sesungguhnya Ibnu Taymiyyah membaca seluruh buku-buku pengetahuan islam, buku-buku filsafat terkenal di zamannya dan buku-buku yang memberitahunya agama-agama terdahulu.
4.Murid-muridnya
Tidak diketahui pada zamannya berapa banyak siswa dan murid-muridnya dan sebagaimana kebanyakan murid-muridnya khususnya ketika pindah dari Syam ke Mesir dan antara iskandariah dan kairo terdapat suatu kekosongan untuk menambah pengatahuan tetapi dia tidak meninggalkan penelitian, ceramah ilmiah dan dialog itu membuat jumlah murid-muridnya bertambah.
Tetapi yang perlu diperhatikan adalah murid-muridnya terbagi menjadi karena pelajaran-pelajarannya ada dua macam :
1. Pelajaran-pelajaran umum yang diajarkan di masjid jami’ umayyah di damaskus pada hari jum’at, diistimewekan dengan nasehat dan pengikutan yang asli, mengeyampingkan pengadaan bid’ah, menjadikan orang-orang generasi partama sebagai referensi yaitu para sahabat dan tabi’in bid’ah-bid’ah yang dibuat-buat dan pelajarannya yang ini jauh dari ilmu bahasa dan mantiq, mudah dan disukai oleh orang umum.
2. Pelajaran-pelajaran khusus diperuntukkan bagi orang-orang yang ingin mewarisi pengetahuannya dan bagi orang-orang yang membantu taekat pemikirannya yang luar biasa besarnya dan pelajaran-pelajaran ini diistimewaan dengan dialig yang menggunakan dalil-dalil aqli dan naqli, dia memberi pelajaran ini di sekolah-sekolah Syam dan kadang-kadang di sekolah-sekoalh Mesir dan murid-muridnya kebanyakan dari pengikut madzhab hambali dan syafi’i, tetapi murid-muridnya tak terhitung apalagi Imam(Ibnu Taymiyyah) sudah lama terjun di medan pendidikan dan da’wah. Dia sudah memberikan pelajaran-pelajarannya kurang lebih empat puluh enam tahun, tidak lelah dan tidak bosan, dia dikenal dalam menberikan pelajaran-pelajarannya dengan bahasa Arab yang jelas, fasih, cepat menjawab pertanyaan tanpa pikir panjang dan berani untuk membela pemukurannya itulah yang menambah banyak muridnya bahkan bertambah banyak, mereka sangat bersemangat dan kagum kepadanya. Banyak yang membicarakan namanya di majelis-majelis ilmiyah sampai Imam Ibnu Ad-daqiq berkata (tentang Ibnu Taymiyyah) mempunyai alasan yang kuat dalam ilmu hadis dan pengetahuan-pengetahuan “Saya melihat seorang lelaki yaitu Ibnu Taymiyyah mengumpulkan seleruh pengetahuan-pengetahuan di hadapannya, dia mengehendaki dan tinggalkan yang kehendaki saja.
Kegiatannya berpindah dari pemberian pelajaran ke pemberian jawaban di setiap kejadian manusia, apabila dia ditanya dia menjawab dengan buku menyiarkan bukunya dan menjadi terkenal diantara banyak orang, apabila dia ditanya dia langsung menjawabnya, disebarkan terhadap segenap orang dan menjadi masyhur, salah satu soalnya adalah dari Ahli humaah tentang ayat (wasi’a kursiyyuhus-samaawaati wal-ardhi)dijawab dengan (arrisalah al-hamuyah hal17) dan setiap orang ingin menjadi muridnya, tentunya pasti ada yang lebih unggul diantara mereka.
1. Imam Ibnu Qayyim yang tidak pernah meninggalkan gurunya, menhafal pengetahuan-pengetahuannya, menjaganya dan banyak menyebut gurunya didalam karya-karyanya seperti di dalam buku Zaadul-ma’aad dan ‘Alaamul-mauqi’qiin, tetappi lebih tenang dari pada gurunya dan lebih condong dalam hal ibadah dan lebih meninggalkan dunia, ituterlihat di dalam buku-bukunya yang berharga seperti Madarijus-salikiin, Al-kalam Ath-thayyib, Haadi Al-arwah, Ighaatsatul-lahafaan, Miftahu daaris-sa’aadah dan yang lain.
2. Al-hafidh Ibnu katsiir yaitu pencipta buku At-tafsiir Al Adhiim, Bidayah wa Nihayah dan yang lain.
Murid-murid terdekatnya pasti mendapatkan kelaliman, penyiksaan dan penjara, terlebih lagi ketika Imam(Ibnu Taymiyyah) ditangkap dan dimsukkan ke dalam penjara, setelah itu kebanyakan dari mereka dibebaskan kecuali orang terdekatnya yang tersisa yaitu murid pertamanya Ibnu Qayyim.
5. Pendapat-pendapat, fiqih dan manhajnya
1. Manhajnya yang global : kita bisa mengambil kesimpulan seperti yang berikut :
Tidak terlalu percaya dengan dalil Aqli
Tidak ingin mengikuti nama besar orang : dia menyalin perkataan Abu Hanifah “Ini adalah sebuah pendapat, Apabila ada yang mempunyai pendapat yang lebih bagus, maka terimalah dia.”
Dari perkataan Imam Malik “Sesungguhnya saya adalah seorang manusia bisa benar bisa salah, maka periksalah perkataanku didalam Al-qur’an dan Sunah Nabi SAW.
Dari perkataan Imam Syafi’i “Apabila benar suatu hadis, maka bantahlah perktaanku untuk lebih berjaga-jaga.”
Dari perkataan Imam Ahmad “Janganlah kamu mengikuti agama orang lain, karena tidak luput dari keselahan.”
Akar syariat adalah Al-qur’an dan Rasulullah SAW telah menafsirkannya seluruhnya, para sahabat belajar darinya kemudian para tabi’in, maka selain itu tidak.
Dia tidak fanatis terhadap pemikirannya, oleh karena itu dia selalu mengaitkan Al-qur’an dan sunah yang diriwayatkan para sahabat, dia pun menentang, kadang-kadang dia mengambil (pendapat) dari orang yang dia tentang.
3. Manhajnya dalam ilmu tafsir, pertama dia menafsirkan Al-qur’an dengan Al-qur’an kemudain dengan perkataan para sahabat lalu dengan perkataan para tabi’in. Dia mengingkari bila ada yang menafsirkan dengan pendapat dan sudah menentang sebagian ulama’ dalam hal itu seperti Imam Ghazali.
4. Manhajnya dalam ilmu Aqidah, dia mempelajari ilmu filsafat bukan untuk mencari fakta-fakta yang ada di baliknya, tetapi untuk menjelaskan yang bathil apalagi yang menentang agama, dia percaya apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, kemudian ingin menghilangkan keburukan ilmu filsafat, oleh karena itu dia mempelajarinya untuk mengetahhui kebenarannya, kemudian menerangrangkan perkara yang bathil setelah dia mengetahui
Dari sini kita mengetahui rahasia pencekalannya terhadap ilmu filsafat, karena mereka membuat methode sendiri, Imam Ibnu Taymiyyah menekankan bahwasanya methode yang benar dalam Aqidah adalah mengikuti Al-qur’anul-karim karena di dalamnya terdapat dalil- dalil dan alasan yang menetapkan keesaan sang pencipta, sifat-sifatnya dan hari akhir, itu bukan hanya pemberitaan saja tetapi di dalamnya juga terdapat kebenaran berita terebut, dia sendiri menganjurkan untuk memilih kabar yang benar.
Keistimewaanya adalah dia mngurutkan yang terdapat dalam hadis tentang aqidah-aqidah, khususnya yang bersangkutan dengan keesaan. Di sini muncul penolakan atau jawaban yang membuat tidak berkutik terhadap golongan-golongan, mereka dinamakan dengan golongan yang menyimpang seperti Al-mu’tazilah, Al-iltihadiyah, falasifah, Al-bathiniyah dan Al-‘asya‘irah.
Begitu juga dia berbicara tentang penafsiran dan penta’wilan(Al-qur’an dan ilmu hadis), dia dan para ulama’ yang lain saling bertentangan dan terjadi perdebatan yang panjang. Dia juga membantu pendapat gurunya (Ibnu Hambal) dalam masalah sesungguhnya Al-qur’an bukan makhluk, dan barangsiapa yang mengatakan Al-qur’an itu termasuk makhluk adalah bid’ah.
Dia juga mendapatkan perlakuan yang kejam dari kelompok Al-jabariyah, Al-qadariyah, Al-asyaa’irah dan mu’tazilah dalam permasalahan (pekerjaan hamba-hamba dan kekuasaan Allah SWT), banyak yang bekerja keras dengan segala upaya untuk mengembalikan manusia pada kejernihan Aqidah, maka oleh karena itu dia memerangi pendeketan (meminta keridhoan)pada para wali, melarangmeminta pertolongan kepada selain Allah SWT dan juga melarang pendekatan kepada orang mati dari para nabi dan orang-orang shalih. Tetapi permasalahan yang menjadi perhatian sekali adalah ziarah ke kubur orang shalih atau para nabi itu dilarang. Inilah salah satu sebab dimasukkannya dia ke dalam penjara. Dan salah satu sebab juga yang dikobarkan oleh orang-orang yang dengki terhadapnya adalah dalam permasalahan ziarah terhadapa makam Nabi SAW. Para sufi yang terus mengkritiknya diantaranya adalah Ibnu Arabi, Ibnu Al-faridh dan Ibnu ‘Atha’illah Assikandari. Dia menciptakan buku dalam permasalahan tersebut dengan judul “Risaalatu madzhabil ittihaadiyiin” dan “Ar-risalah At-tadamariyah”
Manhajnya dalam fiqih : dia dikenal lebih cenderung pada madzhab Al-hanabilah dari empat madzhab lainnya dan mengambil intisari dan akar-akarnya, tetapi beserta itu terkadang dia menentang suatu pendapat apabila ada tiga perkara yang menjadikannya seorang ahli fiqih mujtahid :
Bahwasanya dia mempertimbangkan imam yang empat dengan pertimbangan yang maksimal dari segi fiqihnya.
Dia mewasiatkan kepada ahli fiqih jangan sampaiterjun pada madzhab tertentu apabila menemukan kebenaran di madzhab selainnya.
Dia meninggalakan seluruh madzhab apabila ada hadis yang menentangnya.
6. Posisinya dalam ijtihad
Para ulama’ dari empat madzhab mengumpulkan bahwa ijtihad mempunyai lima tingkatan :
Al-mujtahid Al-mustaqill yaitu yang tidak bersandar pada suatu madzhab dan tidak terikat tidak terikat dengan asas-asas yang khusus kepunyaan imam lain dan dia menentang selain dirinya.
Al-mujtahid Al-muntasib yaitu seorang mujtahid yang mendalami cabang dan akar-akar (suatu madzhab), tetapi dia tidak berpegang pada madzhab apapun, dia belajar (dari suatu madzhab) hanya untuk mengambil suatu kesimpulan.
Al-mujtahid Al-muqayyad yaitu dia bertanggung jawab dengan apa yang telah simpulkan, menjadikan hukum dengan kesimpulan tersebut, dia membuat hokum-hukum baru dari cabang-cabang imam madzhab tersebut, tetapi dia tidak melewati akar-akar dan kesimpulan imam tersebut.
Al-mujtahid Al-hafidh yaitu mujtahid yang menjaga madzhab imamnya, mengetahui dalil-dalilnya dan menyedikitkan yang sebelumnya karena itu menahan ketentuan-ketentuan ijtihad.
Mujtahid yang tidak menetapkan dengan dalil-dalil madzhabnya dan juga tidak melewati yang tersalin (suatu hukum) dari imamnya.
Lalu dimanakah letaknya Imam Ibnu Taymiyyah dari urutan para mujtahid di atas….?
Dan selama masih ada yang fanatis dan yang mengkritiknya akan terus terjadi pertentangan dan pertengahannya, adalah apa yang dikatakan oleh Imam Muhammad Abu Zahrah “Sesungguhnya dia lebih tinggi dari tiga tingkatan terakhir karena dia lebih besar daripada itu, dan sangat luas pengetahuannya dalam ilmu hadis, ilmu tafsir Al-qur’an dan pengetahuan-pengetahuan yang lain, itu semua membuatnya lebuh tinggi tingkatannya dari tiga tingakatan tersebut, bahkan dia pantas ditaruh pada tingakatan yan pertama.”
Dia juga berselisih dengan imam-imam dalam ilmu fiqih, seperti masalah thalaq dalam keadaan haidh dia berkata “Itu tidak terjadi.” Dia diperkuat dengan pendapat syi’ah. Dan menguatkan juga sesungguhya thalaq tiga (dengan tiga ucapan) di satu tempat itu hanya satu thalaq.
Dia (Ibnu Taymiyyah) berkata “Sesungguhnya bersumpah dengan thalaq tidak akan terjadi selama masih di sekitar (keadaan) thalaq dan wajib baginya hanya membayar denda saja.
Dia juga berkata “bahwasanya zakat tidak diberikan kepada orang fasiq, tetapi itu (zakat) diberikan kepada orang-orang yan mengerjakan asas-asas (syri’at) dan cabangnya, karena zakat tidak cukup baginya (orang fasiq) tapi cukup bagi mereka(yang mengerjakan syari’at). Dan selainnya yang masih bersangkutan dengan fatwa-fatwanya…
7. Seorang imam yang a’lim dan pahlawan
Orang-orang ketakutan ketika bangsa tartar mengepung mereka di Aswaar (salah satu nama kota di damaskus) dan para tentara sudah bersiap-siap untuk bertempur, para ulama dan Qadhi sudah berjanji untuk siap bertempur, dan imam pada waktu itu menyusuaikan diri dengan memantapkan hati (para tentara), karena mereka sudah dijanjikan pertolongan yang sungguh-sungguh, kemudian dia bersumpah dengan nama Allah dan berkata “sesungguhnya kalian akan benar-benar di tolong” maka berkata padanya sebagian pemimpin “katakanlah Insya’Allah” maka dia berkata “firman-firmannya benar-benar akan terjadi bukan hanya komentar”.
Dan rakyat berani untuk menentang golongan khawarij(mereka adalah yang keluar dari Ali RA dan mu’aawiyah, dan mereka berpendapat lebih memiliki hak dengan kepemimpinan dari mereka berdua, mereka ingin menguasai kaum muslim dengan cara memfitnah mereka melakukan ma’siat-ma’siat dan kezhaliman, tapi sesungguhnya mereka melakuakn ma’siat-ma’siat lebih besar dan berlipat-lipat ganda) dia berkata kepada orang-orang “apabila kamu sekalian melilhatku pada kelompok itu maka bunuhlah aku”
Dan dia pergi dalam kelompok pertama yaitu kelompok jihad, kemudian dia pergi pada orang-orang yang dikumpulkan di luar damaskus (Syaqhab) dan itu pada bulan ramadhan, dan Imam(Ibnu Taymiyyah menancapkan keberanian kepada orang-orang agar tidak takut selain kepada Allah SWT dan dia memberi fatwa kepada para tentara supaya membatalkan puasa agar mereka mempunyai kekuatan dalam peperangan, dia meriwayatkan sebuah sabda Nabi SAW pada hari peperangan “Sesungguhnya kalian akan bertemu dengan musuh, dan dengan tidak berpuasa kalian kuat” kemudian dia berkeliling diantara para tentara dan makan di depan mereka agar mereka berani melakukannya.
Itulah yang terjadi berhari-hari sampai pasukan bangsa tartar kalah dan yang mengalahkan mereka adalah Ibnu Taymiyyah dan para tentara. Dengan inilah Allah memberi pertolongan kepada orang-orang yang percaya dengan pertolongan Allah SWT.
Inilah keadaan seorang alim yang mu’min, tidak duduk dirumahnya tapi berkeliling ke segenap masyarakat, tidak melihat kesukaran-kesukaran dari harta kemewahan yang berkilauan, akan tetapi permisalan orang mu’min yang alim adalah mengikuti para sahabat dan Nabi SAW. Dia hidup dengan segala pertimbangan, bekerja dan berkeliling ke sekitar rumahnya, singgah ke taman dan sampai seandainya ada permasalahan yang menyebabkan dia akan kehilangan hartanya, seorang anaknya, rumahnya atau bahkan dirinya sendiri. Inilah keberanian yang terkumpul antara pedang, pena dan ucapan. Allah mengumpulkannya kepada satu orang yaitu Imam Ibnu Taymiyyah dan semoga Allah memberkahi dan meridhoinya.
8. Karya-karyanya
Di dalam ilmu tafsir : Seandainya dia mengumpulkan tafsir-tafsirnya itu akan mencapai tiga puluh jilid, dia juga mempunyai surat yang berharga dalam pengajaran ilmu tafsir.
Dalam ilmu ‘Aqaa’id sungguh banyak sekali diantaranya :
1. Kitaabul-iimaan
2. Kitaabul-istiqaamah
3. Iqtidha’ush-shiratul mustaqiim
4. Kitaabul-furqaan
5. Surat-suratnya : Al-humuriyah, At-tadamariyah, Al-wasithiwiyah, Al-baghdadiyah, Al-kiilaaniyah, Al-ba’labakiyah, Al-azhariyah, Al-ikliil, risalah maratibil-iraadah, Al-qadhaa’ wal-qadar, bayaanul-hudaa minadh-dholaal, mu’taqiidaat ahlidh-dholaal, ma’aarijul-wushuul, As-su’al ‘anil-arsy dan firqah an-najiyah.
Dalam pengajaran-pengajara pencarian dalil :
1. Kitaabu naqdhil-Maniq.
2. Ar-raddu ‘Alal-Mantiq.
3. Tanbiihu Ar-rajuli Al-‘aaqil ‘Ala tamwiih Al-jadal Al-baathil.
Dia mempunyai buku yang lain juga pada pembahasan yang lain :
1. Minhaajus-sunnah.
2. Al-jawab Ash-shahih liman badala Diinal-Masiih.
Dalam ilmu fiqih dia mempunyai surat-surat yang berharga seperti :
1. Risaalatul-Qiyaas.
2. Nikaahul-Muhallal.
3. Kitaabul-‘Uquud.
4. Risaalatul-Hasabiyah.
Dia juga mempunyai pemikiran-pemikiran untuk mengambil hukum (yang bukan qoth’i) dan fatwa-fatwa yang bertaburan. Sebagian fatwa-fatwanya telah dikumpulkan dan dinamakan dengan Al-fataawa Al-kubraa.
9. Wafatnya
Dia wafat pada tahun 728 H atau pada tahun 1328 M, wafatnya di dalam penjara benteng (bentang damaskus), seluruh terkejut ketika mendengar kewafatannya dan mengantarkannya sampai tempat untuk pengkuburannya yang terletak di hayyul-halbuuni (di universitas As-suriyah), pada hari jum’at dan para ulama’ Damaskus dan penduduknya keluar berbondong-bondong dalam perarakan mayatnya yang mana damaskus belum pernah menyaksikan perarakan mayat yang begitu besar jumlahnya.
Semoga Allah SAW memberikan berkah yang luas baginya…
Di terjemahkan dari kitab Makarimul Akhlak karya Syaekhul Islam Taqiyuddin Ahmad bin Taymiyah.